Postingan

Guru kok demo?

Gambar
By: Abu Gosok Al-Pawoniy Kita coba membahas guru-guru yang suka dema demo. Bukan menunjuk person di antara mereka yang demo itu. Hanya mengamati fenomena yang terjadi. Mengapa kok perlu diamati bahkan disikapi? Ya karena miris. Ada peribahasa : Guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Guru, yang seharusnya menanamkan etika berbangsa dan bernegara pada anak didiknya, kok tak segan2 malah bikin gaduh dan meniru cara-cara preman. Apa gak malu tuh diliat para anak didiknya? Sebetulnya jika memang ada suatu tuntutan, cukup lewat perwakilan2 yg ada. Kan sudah ada prosedurnya?. Harap ingat, profesi mereka itu  Guru lho: _Digugu lan ditiru_. Mrk mengajar itu demi uang, atau demi menyebarkan ilmu? Punya ilmu kok diperjual belikan. Bahasa kasarnya : dilacurkan. Apa ini mmng sdh zamannya? Dawuh kyai saya, memang, salah satu tanda dari zaman akhir yakni orang menuntut ilmu itu ( sekolah, kuliah , mondok dll) itu bkn untuk mencari ilmu itu sendiri, tapi demi mengejar hal2 yg bers...

Masalah Natal dan Tahun Baru Masehi

Kita umat Islam, juga umat2 agama yg lain, di negeri ini, tentu hafal Sila 1 Pancasila. *Ketuhanan yg Maha Esa*. ini satu contoh saja. masyarakat non muslim di negara kita , krn sdh jadi rakyat Indonesia, mau gk mau, hrs sepakat thd konsensus brsama itu.  Tp sila itu tdk kmudian  memsksa mengubah keykinan  mereka, misal umat nasrani, ttg trinitas. Tp  merekapun juga hafal 5 sila Pancasila, trmasuk sila pertama td. Sebagaimana kita ucapin natal, selamat tahun baru dll, itu hny budaya keindonesiaan, sy kira tdk sampai ke masalah aqidah. Sbgm tgl 25 Desember, ditetapkan negara sbg hari Natal, ya sdh, itu budaya. Konsesensus awal2 negara ini  didirikan. Tdl usah kita umat islam di negeri ini ikut2an mmprmasalahkan ttg Natal yg 25 Desember itu. Walau kita misalnya tau sejarah yg sbnrnya tentang tgl itu. Jgn pula kita mengganti kalender yg  kita miliki. Contoh lagi, ttg  hari wafat yesus kristus, diganti hari wafat isa al masih, malah kliru. atau Wafa...

Galau di zaman Now

Gambar
```Yang bikin saya resah, adalah munculnya fenomena di zaman now, masyarakat muslim mulai melupakan substansi Islam, dan  cenderung lebih fokus pada simbol2 Islam belaka.  Walau simbol itu juga penting, tp jk mereka dihadapkan pada 2 opsi (dg situasi kondisi harus memilih salah satu), mengapa masih memilih yang berupa simbol2 belaka?``` Mengapa juga, masih ego dg memilih hal2 yg bersifat _"Jalbul Mashalih_", lalu mengabaikan hal2 yg  bersifat _"Dar-ul Mafasid?"_ ( lebih memprioritaskan mmperoleh pahala misalnya, dan mengabaikan kerusakan atau tidak stabilnya lingkungan, pdhl kita merupakan _kholifah fil ardhi_, punya misi _Rahmatan lil Alamin & Memayu Hayuning Bawono_) *Melakukan perintah agama di suatu sisi, dan merobohkan ajaran agama pd sisi yg lain* Contoh1:  Menghancurkan tempat2 *maksiyat* dengan *kekerasan* dan *kebrutalan* dan melanggar hukum yg ada (hukum di sini adalah konsensus bersama berbagai umat dalam suatu negeri, dengan s...

Gus Dur, Sang Pahlawan Sejati (Sebuah kisah nyata, sebagai renungan jelang Pilpres)

Gambar
Di akhir tahun 1998 Gus Dur rawuh (datang) ke Wonosobo, sebuah Kabupaten di Jawa Tengah. Saat itu sedang euforia (ramai-ramainya) era reformasi, beberapa bulan setelah Pak Harto jatuh. Dan ini terjadi beberapa bulan sebelum Gus Dur menjadi orang nomer satu di negeri ini. Beliau masih menjabat sebagai Ketua Umum PBNU. Bertempat di Gedung PCNU Wonosobo, Gus Dur mengadakan pertemuan dengan pengurus NU dari Wonosobo, Banjarnegara, Pubalingga, Kebumen, Temanggung dan Magelang. Tentu saja semua kiai ingin tahu pendapat Gus Dur tentang situasi politik terbaru. Penulis hadir di situ walaupun bukan kiai, dan duduk persis di depan Gus Dur. Penulis lah yang menuntun Gus Dur menaiki Lantai 2 PCNU Wonosobo. “Pripun Gus situasi politik terbaru?” tanya seorang kiai. “Orde Baru tumbang, tapi Negeri ini sakit keras.” kata Gus Dur. “Kok bisa Gus?”  “Ya bisa, wong yang menumbangkan Orde Baru pakainya emosi dan ambisi tanpa perencanaan yang jelas. Setelah tumbang mereka bin...

Syaikhona Kholil

Gambar
Lahir di Bangkalan, Madura pada 11 Jumadits Tsani 1235H. Wafat 29 Ramadhan 1343 H. Pendidikan Pesantren Langitan (Tuban), Pesantren Bangil (Pasuruan), Pesantren Kebincandi, Pasuruan, Pesantren Banyuwangi, dan Makkah Al Mukarramah. Perjuangan/Pengabdian : Pengasuh Pesantren Kademangan, Bangkalan Madura Kehadiran Syaikhona Kholil Bangkalan telah mengharumkan bumi Madura Memang, kehadirannya ke dunia cuma sebentar, hanya 105 tahun. Namun, seluruh umurnya penuh manfaat. Kehidupannya yang tak mengenal lelah itu, diabadikan untuk pengembangan pesantren. Kiranya sangat wajar kalau Syaikhona Kholil Bangkalan dikukuhkan sebagai Bapak Pesantren Indonesia. Pribadi Kiai Kholil sangat kharismatik. Berwibawanya nama Syaikhona Kholil, jelas disebabkan dalam dirinya terkumpul berbagai ragam keutamaan dan kesempurnaan, baik lahir maupun batin. Kesempurnaan keulamaannya sama sempurnanya dengan kewaliannya. Dalam hierarki kewalian alam semesta, hampir semua wali Allah mel...

Syech Arsyad al-Banjari,Sang Datuk Kalampayan

Gambar
 A. Empat Serangkai Ulama Nusantara  Foto dari Dokumentasi Perpustakaan MEKKAH, tentang 4 orang Waliyullah dan Ulama Besar Indonesia yang menuntut ilmu agama di MEKKAH sedang mengkaji kitab, yaitu :  Syekh Abdurrahman Mashri (Tanah Jawa) Syekh Abdul Wahab Bugis (Sulawesi) S yekh Muhammad Arsyad Al-Banjari (Kalimantan)   Syekh Abdussamad Al-Palembani (Sumatera) Kitab karya Syekh Muhammad Arsyad yang paling terkenal ialah Kitab Sabilal Muhtadin, atau selengkapnya adalah Kitab Sabilal Muhtadin lit-tafaqquh fi amriddin , yang artinya dalam terjemahan bebas adalah "Jalan bagi orang-orang yang mendapat petunjuk untuk mendalami urusan-urusan agama". Syekh Muhammad Arsyad telah menulis untuk keperluan pengajaran serta pendidikan, beberapa kitab serta risalah lainnya, diantaranya ialah: Kitab Ushuluddin yang biasa disebut Kitab Sifat Duapuluh, Kitab Tuhfatur Raghibin, yaitu kitab yang membahas soal-soal itikad serta perbuatan yang ...

Semar

Gambar
Kyai Lurah Semar Badranaya adalah nama tokoh panakawan paling utama dalam pewayangan Jawa dan Sunda. Tokoh ini dikisahkan sebagai pengasuh sekaligus penasihat para kesatria dalam pementasan kisah-kisah Mahabharata dan Ramayana. Tentu saja nama Semar tidak ditemukan dalam naskah asli kedua wiracarita tersebut yang berbahasa Sansekerta, karena tokoh ini merupakan asli ciptaan pujangga Jawa. Sejarah Semar Menurut sejarawan Prof. Dr. Slamet Muljana, tokoh Semar pertama kali ditemukan dalam karya sastra zaman Kerajaan Majapahit berjudul Sudamala. Selain dalam bentuk kakawin, kisah Sudamala juga dipahat sebagai relief dalam Candi Sukuh yang berangka tahun 1439. Semar dikisahkan sebagai abdi atau hamba tokoh utama cerita tersebut, yaitu Sahadewa dari keluarga Pandawa. Tentu saja peran Semar tidak hanya sebagai pengikut saja, melainkan juga sebagai pelontar humor untuk mencairkan suasana yang tegang. Pada zaman berikutnya, ketika kerajaan-kerajaan Islam berkembang di Pulau Jawa, pew...